Asal Kompleks Kebudayaan Lapita

Asal Kompleks Kebudayaan Lapita

N. A. Angayomi
English Dept. UGM
Final Exam Kelas Arkeologi Pasifik
Chapter 02

Pada dasarnya, kebudayaan Lapita ditandai dengan kompleks atau seri gerabah (atau keramik) yang memiliki ciri yang unik, terutama pada bentuk dan ornamen yang terdapat di gerabah tersebut (Kirch, 1996: 58). Gerabah Lapita terbuat dari tanah dengan pembakaran yang tidak terlalu tinggi, mencakup teko, piring, mangkuk, serta semacam kendi-kendian. Dari jenis tersebut, kebanyakan tidak didekorasi, tetapi antara 5-15%-nya didekorasi dengan motif –motif antropomorfis, bentuk geometris, serta transformasi wajah manusia. Teknik pendekorasianpun berbeda-beda, ada yang diukirkan dengan teknik dentate stamp atau berupa pita merah di leher kendi.

Kebudayaan Lapita tidak hanya terdiri dari keramik saja, tetapi juga kompleks budaya budaya lain seperti pola pemukiman yang unik, strategi ekonomi, serta budaya material non-keramik seperti alat-alat scrapers, adzes yang terbuat dari batu dan kerang, pisau pengupas, serta alat memancing, bahkan ditemukan semacam ornamen yang diduga sebagai shell money (Kirch, 1996: 60).

Secara geografis, kebudayaan Lapita terbentang dari Kepulauan Bismarck di barat, melalui pulau-pulau utama Melanesia (Solomon, Vanuatu, New Caledonia) ke Fiji, lalu mencapai Kepulauan Polinesia Tonga dan Samoa, menempuh jarak sekitar 4.000 km. Dari penggalian situs-situs di daerah tersebut diketahui bahwa pertanggalannya sekitar 1.500 sampai 500 tahun SM. Situs paling awal ditemukan di Kepulauan Bismarck, dengan pertanggalan sekitar 3.500 tahun lalu, dan situs di Samoa dan Tonga dating-nya sekitar 3.200 sampai 3.000 tahun yang lalu (Kirch, 1996: 61).

Masalah yang timbul adalah: dari manakah kebudayaan Lapita berasal?

Karena pertanggalan tertua berada di Kepulauan Bismarck, menurut Kirch (1996: 64) ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam menganalisis asal kebudayaan Lapita, yaitu:
1. Kebudayaan Lapita seakan muncul secara tiba-tiba pada 3.500 tahun yang lalu, dengan tidak teridentifikasinya tahap perkembangan yang mendahului
2. Gerabah Lapita dari periode awal banyak memiliki ornamen
3. Alat kerang, kait pancing, serta ornamen yang ada di situs Lapita yang lebih tua sangat berbeda dengan alat semacamnya di wilayah yang sama
4. Situs-situs Lapita yang lebih tua diwarnai dengan jaringan perdagangan yang kompleks.

Empat hal tersebut mengacu pada gagasan bahwa kebudayaan Lapita adalah hal yang benar-benar baru di kawasan tersebut. Menurut Bellwood dalam Kirch (1996: 65), kunci asal kebudayaan Lapita terletak pada keramiknya, di mana motif yang ada merupakan motif lokal Melanesia tetapi kompleks gerabahnya sendiri kemungkinan dibawa dari tradisi gerabah yang menyebar di kawasan Asia Tenggara pada 4.000-2.000 tahun SM.

Ciri-ciri gerabah Asia Tenggara yang tercermin dalam gerabah Lapita adalah aspek pembuatan, bentuk kendi, serta teknik dekorasi. Menurut Aoyagi yang dikutip Kirch (1996: 65), ada gerabah dari Filipina—yang disebut kendi Magapit—dan Kalumpang dari Sulawesi yang menggunakan teknik ornamen dentate stamp, serta kendi berpita merah yang ditemukan di Halmahera (Bellwood, dalam Kirch 1996: 65). Selain itu, situs-situs tersebut juga mengandung alat kerang, ornamen, serta adzes batu dan kerang yang mirip dengan yang ada di situs Lapita di Kepulauan Bismarck.

Selain itu, data tentang kebudayaan Polinesia menunjukkan karakter linguistik yang terkait dengan pengguna bahasa Austronesia, yaitu bahwa bahasa di tiga daerah tersebut semuanya berasal dari bahasa Austronesia Proto-Central Pasifik. Karena kebudayaan Polinesia merupakan perkembangan dari kebudayaan Lapita yang berada di wilayah Fiji, Samoa, dan Tonga (Kirch, 1996: 64), maka ada kemungkinan bahwa kebudayaan Lapita terkait dengan orang yang berbicara bahasa Austronesia pula.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Kebudayaan Lapita berasal dari wilayah Asia Tenggara. Kebudayaan Lapita ini diperkirakan meneruskan perkembangan kebudayaan Neolitik yang telah ada di wilyah ini pada masa-masa sebelumnya.


Works cited and References

Kirch, Patrick V. “Lapita and Its Aftermath: The Austronesian Settlement of Oceania”. Transactions of the American Philosophical Society, New Series, Vol. 86, No. 5, Prehistoric Settlement of the Pacific (1996): 57-70. Accessed: 08 January 2009, 20:43.

Advertisements
Categories: Not Just a Writing | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: