Domestikasi Tanaman di Papua

The English version is available here.

BERCOCOK TANAM DI PAPUA:
SUATU CENTER AWAL?

N.A. Angayomi
English Dept. UGM
Paper Presentasi Kelas Arkeologi Pasifik
15 Desember 2008

Secara umum, domestikasi tanaman dapat diartikan sebagai proses yang mengarah pada pemanfaatan tanaman dengan genotype yang dimodifikasi (Matthews and Chris Gosden, 1997:130). Menurut beberapa ahli, di dunia ini ada beberapa center atau pusat perkembangan bercocok tanam (Harlan, 1971:469). N. I. Vavilov menyebutkan ada delapan center yang meliputi kawasan Indocina, Asia Tenggara dan India, Pakistan, Timur Tengah, Afrika Timur, Eropa Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Zhukovsky juga menyebut area yang sama, hanya ditambah beberapa detail. Yang menarik, kawasan Papua dan Pasifik tidak tercantum di dalamnya, padahal di daerah ini pun ada pertanian.

Denham berargumen bahwa arborikultur dan beberapa komponen agrikultur muncul di New Guinea secara independen pada masa awal hingga pertengahan Holosen (Denham, 2004:611). Sementara, Harris menyebutkan bahwa di New Guinea, manusia telah memodifikasi ekosistem highland dan lowland sejak sebelum masa Plestosen Akhir (Harris, 1995:851). Hal ini didukung dengan temuan arkeologis Jack Golson yang meneliti area Kuk Swamp di highland Papua Nugini sebelah barat. Pertanggalan situs ini menyebutkan bahwa di lapisan 9000 tahun yang lalu ditemukan bukti-bukti aktivitas bercocok-tanam, seperti stake-holes, basins, hollows, dan saluran pengairan artifisial (Harris, 1995:851).

Menurut Tushingham, berdasar kajian ulang atas data dari situs Kuk Swamp, pertanian di Papua melalui tiga fase. Fase I (sekitar 10.220-9.910 tahun lalu) merupakan fase domestikasi tanaman dan bercocok-tanam di sekitar daerah perairan dan lembah highland. Fase II (sekitar 6.950-6.440 tahun lalu) meliputi bercocok-tanam yang lebih intensif di daerah perairan dan berkembangnya pembabatan dan pembakaran hutan untuk memperluas lahan. Fase III (4.350-3.980 tahun lalu) merupakan fase bercocok-tanam dengan menggunakan parit sebagai media pengairan (Tushingham, 2004:abstract).

Pendapat ini didukung oleh temuan Golson yang terkait dengan situs Kuk Swamp tersebut, yaitu hasil penelitian palynology yang dilakukan oleh Haberle dkk di Lembah Baliem, situs yang dianggap memiliki kontrol pengairan agrikultur yang berkembang dengan sangat tinggi di kawasan Papua. Di situs ini, dengan pertanggalan yang lebih tua dari 7000 tahun lalu, ditemukan bukti pembersihan lahan di sekitar Kelala Swamp (Yen, 1995:842). Bukti mikrofosil yang berupa starch yang berasal dari area ini mengindikasikan pengaruh manusia pada tanaman secara terus-menerus, ditunjukkan dengan butiran starch yang lebih besar jika dibandingkan dengan starch yang berasal dari tanaman yang tumbuh secara alami (tidak didomestikasikan). Mikrofosil lain yaitu pollen mengandung karbon yang diperkirakan berasal dari pembersihan hutan dengan cara dibakar—karakteristik dari pertanian sistem slash-and-burn di daerah kering (Yen, 1995:842).

Terlepas dari itu, bukti pertanggalan yang ada sangat menarik perhatian. Dengan pertanggalan yang mencapai angka 9000 tahun yang lalu, maka asumsi bahwa pertanian di kawasan Papua mungkin berasal dari China runtuh. Harlan menyebutkan bahwa situs bercocok tanam tertua di China adalah situs Yang-shao dengan pertanggalan yang diperkirakan tidak lebih tua dari sekitar 4000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 6000 tahun yang lalu (Harlan, 1971:472). Jika situs di Papua mencapai angka 9000, maka tidaklah mungkin bahwa pertanian di Papua berasal dari China yang baru muncul sekitar 6000 tahun lalu.

Selain perbedaan pertanggalan yang cukup signifikan, objek pertaniannya pun berbeda. Di kawasan China lebih terfokus pada padi-padian, sementara di kawasan Papua yang cenderung kering tanaman yang didomestikasi adalah umbi-umbian serta buah ataupun tanaman khas tropis lain. Sumber starch utama kawasan Papua adalah umbi-umbian seperti taro atau Colocasia esculenta dan yam atau famili Dioscorea, tanaman sagu (Metroxylon sagu) untuk daerah perairan sungai, pisang Musa jenis Eumusa di daerah perairan pantai, serta Eumusa dan Australimusa di kawasan yang lebih tinggi (Yen, 1995:833).

Menilik banyaknya bukti arkeologis ataupun botanis mengenai pertanian di Papua yang mengindikasikan adanya perbedaan yang cukup signifikan dengan pertanian China, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa Papua memiliki sistem pertanian tersendiri. Pertanggalan yang lebih tua dari pertanggalan pertanian di China, serta perbedaan tanaman yang didomestikasi merupakan pendukung asumsi ini. Namun demikian, diperlukan penelitian yang lebih lanjut mengenai hal ini agar dapat ditarik kesimpulan yang lebih akurat. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa dengan perkembangan teknologi dalam bidang arkeologi serta botani, asumsi yang telah ada selama ini runtuh dan digantikan dengan penemuan baru yang lebih akurat.

Works Cited

a. Paper Based

Harris, David. “Early Agriculture in New Guinea and the Torres Strait Divide”. Antiquity 69 (1995): 848-854.

Tushingham, S. “New Guinea as a Primary Center of Domestication”. Current Anthropology Vol. 45, Number 1 (February 2004): abstract.

Yen, D. E. “The Development of Sahul Agriculture with Australia as Bystander”. Antiquity 69 (1995): 831-847.

b. Internet Sources

Denham, Tim. “The Roots of Agriculture and Arboriculture in New Guinea: Looking beyond Austronesian Expansion, Neolithic Packages and Indigenous Origins”. World Archaeology, Vol. 36, No. 4 (December 2004): 610-620. Accessed on 11 December 2008, 02:03 pm

Harlan, Jack R. “Agricultural Origins: Centers and Noncenters”. Science New Series, Vol. 174, No. 4008 (29 October 1971): 468-474. Accessed on 11 December 2008, 02:00 pm.

Matthews, Peter J and Chris Gosden. “Plant Remains from Waterlogged Sites in the Arawe Islands, West New Britain Province, Papua New Guinea: Implications for the History of Plant Use and Domestication”. Economic Botany, Vol. 51, No. 2 (April-June 1997): 121-133. Accessed on 11 December 2008, 01.47 pm.

Advertisements
Categories: Not Just a Writing | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Domestikasi Tanaman di Papua

  1. Pingback: Plant Domestication in Papua | My Observation Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: