Book Review

Welcome Back, Mr. Hirata (^____^)

Finally… I’m back to this blog after disappearing for almost 1 year… Fyuh… *sigh*

Well.
Setelah sekian lama menyesalkan kepergian ‘Andrea yang saya kagumi’, akhirnya dia kembali. Kembali dengan karya barunya, tapi yang paling penting adalah kembali dengan style khas dia yang sangat kuat di Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, lalu sempat sedikit kedodoran di Edensor, dan beneran lenyap di Maryamah Karpov.

Di dwilogi terbarunya, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, dia beneran sudah kembali. Dan saya kembali terpesona padanya. Yah, pokoknya, happily I say “welcome back”! 🙂

Seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea lagi-lagi membuat saya miris, soalnya saya bisa ketawa dan menangis di saat yang bersamaan, dan bisa menertawakan ironi serta diri sendiri dengan cara yang asyik tapi benar-benar membuat tercekik, lalu merenung habis-habisan. Seperti di Mozaik nomor 2 Padang Bulan yang hanya 7 halaman–3 lembar lebih setengah. Di bagian awal, saya cekikikan, lalu tiba di bagian akhir mozaik ini mata saya sudah berkaca-kaca. Dan mungkin sudah nangis beneran andai saya tak sadar TPO (Time, Place, and Occassion–waktu itu saya lagi makan siang sendirian di sebuah tempat makan ber-icon lebah imut kuning-hitam di sebuah mall di dekat R.S. Bethesda. Gila saja mau nangis sendirian di situ. Baru duduk saja sudah dilihatin gara-gara rambut saya, eh, kok tahu-tahu nangis gara-gara buku. Apa kata dunia? *Oi, oi! Dunia? Siape elu, woy!*–Aah, tuh, dark side saya jadi marah…).

Anyway… Membicarakan Padang Bulan mau tak mau saya kembali me-recall memori saya tentang mozaik terakhir di Maryamah Karpov, sebab Padang Bulan lebih banyak bercerita tentang Ikal, A Ling, serta makhluk yang diibaratkan sebagai kapal Nabi Nuh yang karam di hati manusia: rasa cemburu. Plus latar belakang masa lalu Enong [siapa dia? baca saje lah, nanti juga tahu.. ;)].
Di Padang Bulan, seperti biasanya, mozaik-mozaik Andrea tidak berurutan, dari Ikal loncat ke Enong lalu kembali lagi ke A Ling. Tapi, seperti biasanya juga, itu punya titik temu. Titik temu yang membuat saya merinding karena titik temu itulah yang mengubah semuanya, yang membawa saya pada cerita tentang seorang perempuan perkasa. Selain titik temu itu, ada beberapa mozaik yang secara tersirat dan tersurat adalah merupakan kausa alias penyebab dari pernyataan ‘Tuhan tahu tapi menunggu’–yang akibatnya tertuang habis-habisan di Cinta di dalam Gelas.

Tapi, ada satu hal yang beneran tetap membuat saya merinding, meskipun hal ini tidak dibeberkan seintens di Laskar Pelangi ataupun Sang Pemimpi. Yup. Kisah tentang satu figur, yang belakangan ini saya sadari sebagai salah satu nyawa dari karya-karya Andrea: Ayah–baik ayahnya maupun ayah orang lain.

Iya, saya sadar. Saya memang paling lemah jika Andrea mulai menceritakan figur seorang ayah, entah itu Ayah-nya ataupun ayah orang lain (kalau di buku ini adalah ayah Enong). Tapi justru ini adalah salah satu hal yang membuat saya kagum padanya. Ada satu bagian yang tidak saya mengerti, tapi beneran membuat saya berpikir tentang figur yang disebut Ayah, Bapak, Babe, Abah, Dad, To-chan, Papa, atau apalah selusin sinonimnya. Berpikir bahwa mereka benar-benar sosok yang terhebat di dunia–mungkin sedikit banyak karena background saya kali ya? Tapi memang sejauh ini–dari semua buku ataupun novel yang pernah saya baca–baru Andrea yang bisa menggambarkan figur seorang ayah sebegitu rupa hingga benar-benar membuat saya tertohok.

Membaca Cinta di Dalam Gelas seperti membaca sebuah hasil penelitian mendalam tentang sosiologi dan psikologi. Iya. Andrea mendadak jadi seorang sosiolog dan psikolog.
Awalnya saya pikir bakal jadi agak ‘krik…’ gitu, tapi saya salah total. Justru di sinilah saya beneran terkecoh oleh Andrea. Dua kali terkecoh dengan pola yang sama, terjerumus pada tipe joke yang sama (padahal saya kan bukan keledai). Sial. Tapi memang gaya dia bercerita yang seperti itulah yang membuat saya sempat lengah. (Jadi, pesan moral nomor sekian: hati-hatilah jika kau membaca Cinta di Dalam Gelas, kawan. Jangan sampai kau terperosok dua kali.)

Tapi terlepas dari itu, di buku kedua inilah terkuak sudah misteri dari seseorang bernama Maryamah Karpov yang menghantui saya sejak buku keempat tetralogi LP muncul di pasaran. Tanpa tedeng aling-aling, sosok Maryamah Karpov ditelanjangi habis-habisan di sini. Dari hanya sekedar sosok ‘siapa ini orang, kok bisa jadi judul buku yang ngga nyambung blas?’ di pikiran saya, Maryamah berubah menjadi sesosok perempuan perkasa yang–jika R.A. Kartini melihatnya–R.A. Kartini pun akan bangga setengah mati padanya sekaligus terenyuh setengah hidup karenanya.
Iya, yang saya tahu sebelum membaca buku ini hanyalah bahwa Maryamah adalah pemain catur yang mengusung gaya Karpov (bahkan siapa Karpov itupun saya tak tahu), tapi setelah ‘Detektif Conan’ beraksi di Cinta di Dalam Gelas dan membeberkan temuannya, saya jadi tahu bahwa perjuangannya untuk mempertahankan hidup dan harga dirinya amat sangat gila. Dan siapa sangka ada sosok Ninochka di belakangnya? Fufufufu… Andrea memang mengejutkan.

Secara keseluruhan, Padang Bulan memang lebih dekat dengan tetralogi Laskar Pelangi, tapi Cinta di Dalam Gelas memberikan sesuatu yang berbeda. Jika dulu Andrea mencerdasi ironi-ironi pendidikan dan kemiskinan, di Cinta di Dalam Gelas dia lebih cerdas lagi, lebih pedas lagi, dan lebih membuat tawa saya pada humor satirnya terdengar sangat menyakitkan. Dia mencerdasi sosial, politik, pendidikan, gender, dan kemiskinan dengan cara yang tak terbayangkan. tajam, tapi juga menggelitik.

Tapi, memang begitulah Andrea. Pendek kata, dia gila. Orang gila yang sanggup membuat orang lain (and I’m one of those people) terpesona, jatuh cinta, lalu tergila-gila padanya (nah, kan? Saya sudah mulai kepengaruh gaya bahasa dia yang melambai-lambai lebay…).
Pendapat saya sih memang personal dan subyektif, soalnya saya memang penggemar Andrea di dua buku pertamanya. Jadi ya… jangan yakin sepenuhnya dengan ocehan di atas, soalnya–ya tadi itu–hal itu subyektif. Kesan dari sebuah buku ada pada pembacanya, kan? Fufufufu… ^_^; (makanya, baca sendiri saja ya, hehehhe…*bukan promosi kok, kan baca gag harus beli, wkwkwkwk..*)

Anyway… mengagumi orang berpenyakit gila macam Andrea itu… termasuk Penyakit Gila nomor berapa, yah?

Yah, whatever it is, pokokna mah, selamat datang kembali, Kawan!

Categories: Book Review | Leave a comment

Maryamah Karpov

Title: Maryamah Karpov –Mimpi-mimpi Lintang–. Author: Andrea Hirata. Publication: November 2008, second edition; Yogyakarta: Bentang.

Voila, the fourth book of Laskar Pelangi tetralogy ^_^

Buku terakhir dari tetralogi karya Andrea Hirata ini benar-benar ditunggu, terbukti dalam satu bulan sudah dicetak ulang. Masih tetap bercerita tentang Ikal dan orang terdekatnya, tetapi buku ini terbilang cukup melelahkan jika dibandingkan tiga buku yang lain. Dengan mozaik-mozaiknya, Andrea mengajak kita untuk menelusuri budaya Melayu dengan satir-satir khas Andrea yang menggabungkan sains dengan budaya.

Secara garis besar, buku ini bisa dibilang terbagi dalam dua bagian utama. Bagian pertama fokus pada orang Melayu dan budaya mereka. Sebenarnya, sesaat setelah membaca buku ini, sempat terpikir apa kaitan judul “Maryamah Karpov” dengan cerita di dalam novel itu sendiri. Akan tetapi, setelah dikaji ulang, sebenarnya judul tersebut cukup mewakili bagian pertama novel ini. Kisah tentang orang Melayu dengan segala kebiasaan dan budaya mereka tertuang dalam satu frase, “Maryamah Karpov”, di mana dalam frase tersebut sudah terkandung unsur bahwa orang Melayu senang memberi julukan pada orang lain, sering nongkrong di warung kopi, termasuk daya imajinasi mereka yang luar biasa (yang sangat berguna dalam cara menghibur diri yang lain daripada yang lain–mengibul).

Paruh kedua mulai terfokus pada pencarian A Ling. Membaca bagian inilah yang menguras tenaga karena atmosfernya sangat dense dengan pace yang tak terduga yang dengan tanpa ampun hanya memberi kesempatan kecil bagi pembaca untuk sekedar catch the breath.

Terlepas dari itu, ada banyak komentar yang menyatakan bahwa pencariannya terlalu mengada-ada dan berlebihan, tapi saya pikir that’s fine, karena sebagai sebuah fiksi, isi di dalamnya bisa seliar apapun–terserah pada sang penulis. Walaupun dikatakan bahwa Laskar Pelangi diangkat dari kisah nyata, tetapi tetap saja bahwa itu adalah sebuah novel, di mana dalam sebuah novel komposisi real event-nya tidak akan mungkin pernah 100% karena ada hasil imajinasi di dalamnya (jika novel adalah 100% kisah nyata, maka itu disebut biografi instead of novel kan?).

Nevertheless, ending dari novel ini bisa dibilang cukup memuaskan. Regarding tiga buku sebelumnya dan Andrea Hirata saat ini, bisa dibilang bahwa it is the best ending Andrea can produce for this book. Overall, sebagai sebuah penutup, Maryamah Karpov lumayan tidak mengecewakan meskipun I think that it is not his best, ini bukan buku terbaik Andrea. Personally I believe that Andrea’s best works are Laskar Pelangi and Sang Pemimpi, dua buku yang–dengan kesederhanaannya yang begitu membumi–benar-benar menginspirasi dan menyemangati para pembaca

Categories: Book Review | 1 Comment

Blog at WordPress.com.