Posts Tagged With: Archaeology Pacific

Kontak Suku Aborigin dengan Bangsa Makassar di Australia Utara

Kontak Suku Aborigin dengan Bangsa Makassar di Australia Utara

N. A. Angayomi
English Dept. UGM
Final Exam Kelas Arkeologi Pasifik
Chapter 03

Daerah Australia Utara merupakan daerah yang ideal bagi pelayaran—khususnya dari kawasan Asia Tenggara—mengingat kawasan Australia Utara ini merupakan sabuk monsoon, di mana dalam beberapa bulan angin monsoon barat laut bertiup dari kawasan Asia Tenggara sehingga memudahkan pelayaran. Selain itu, perairan Australia pun kaya akan teripang yang merupakan komoditas perdagangan utama yang dikirim ke Cina.

Kontak suku Aborigin di kawasan Australia Utara dengan orang Makasar terjadi karena perdagangan teripang. Orang Makasar mengambil teripang dari kawasan Australia Utara kemudian memasaknya langsung di tempat—menjadi semacam industri pengolahan teripang. Tentunya proses ini tidak akan selesai dalam waktu singkat sehingga mereka membuat tempat tinggal semi permanen untuk tinggal dan mengolah teripang.

Kedatangan bangsa Makassar ini diperkirakan sekitar tahun 1780M. Pertanggalan ini diperoleh dari botol-botol liquor berbentuk persegi yang diperkirakan diproduksi pada abad ke-19, serta koin perunggu berlambang VOC yang bertuliskan tahun 1780. Pertanggalan dengan karbon tidak begitu relevan karena diperkirakan pohon bakau telah terkontaminasi sehingga mempoduksi karbon secara berlebih. Secara garis besar, Macknight menyimpulkan kedatangan bangsa Makassar dimulai sekitar tahun 1700 Masehi stelah Belanda menguasai Makassar pada 1667.

Ada dua wilayah yang diperkirakan menjadi tempat pertemuan suku Aborigin Australia dengan bangsa Makassar. Yang pertama adalah di kawasan Arnhem Land di sekitar Teluk Carpentaria dan Pantai Kimberley di kawasan Australia Barat Laut (tetapi perjalanan ke kawasan Australia Barat Laut jauh lebih berbahaya sehingga lebih sering bangsa Makasar mendarat di Arnhem Land).

Dua budaya berbeda berada dalam satu lokasi yang sama. Kontak yang terjadi pasti akan memberikan pengaruh satu sama lain. Oleh karena suku Aborigin dan bangsa Makassar berada dalam area yang sama maka kontak antara mereka kemungkinan besar terjadi, dan dalam kontak ini bukan tidak mungkin ada aspek budaya dari dua bangsa berbeda tersebut yang diserap oleh kebudayaan masing-masing.

Contohnya, secara linguistik, ada beberapa bahasa Makasar yang diserap dalam perbendaharaan kata bangsa Aborigin pesisir dan menjadi nama beberapa wilayah, dan memunculkan lingua franca atau bahasa pidgin di kawasan pesisir. Selain dari segi bahasa, penyakit pun ikut menular seperti cacar air. Juga terdapat suku bangsa Aborigin—yaitu suku Yolngu—yang menunjukkan kemiripan dengan bangsa Indonesia. Howard Morphy pun menyebutkan bahwa interaksi bangsa Makassar dan Yolngu menpengaruhi bidang seni, ritual seremonial, dan lagu.

Dari segi antropologis, adanya pengaruh Makasar secara seremonial dan mitologis dalam ritual dan kepercayaan suku Aborigin Arnhem Land, yang menurut para antropolog dinilai sebagai hal yang sangat vital. Terkait dengan ini, Donald Thomson menemukan simbol totem dari suku di kawasan Glyde River yang berupa botol persegi, sebuah imitasi dari botol minuman keras yang banyak ditemukan di kawasan situs Makassar. Yang menarik, imitasi tersebut diukir dari kayu dan motif yang mewarnainya merepresentasikan ritual kompleks yang terkait dengan industri teripang. Hal ini menunjukkan bahwa hal asing telah diterima di mitologi Aborigin dan organisasi sosial mereka.

Selain kontak secara non-material, ada peninggalan arkeologis yang menunjukkan adanya kontak antara suku Aborigin dan bangsa Makassar. Salah satu situs yang dianalisis adalah situs di Anuru Bay oleh Campbell Macknight. Di situs ini ditemukan ratusan pecahan semacam kendi, 14 struktur batu yang masing-masing bisa digunakan untuk menaruh 5 wadah besar, serta tungku yang digunakan khusus untuk pengasapan teripang.

Selain pengolahan teripang, ditemukan pula dua makam Makassar di Anuru Bay. Sebagian berpendapat bahwa makam tersebut menunjukkan tingginya angka kematian dalam pencarian dan pengolahan teripang.

Di situs pengolahan teripang pun ditemukan pecahan kaca dari botol persegi yang beberapa di antaranya tercantum nama penyulingan Belanda. Juga ditemukan banyak keramik impor yang kebanyakan berwarna merah polos. Meskipun demikian, tidak ada bukti bahwa gerabah juga dibuat di Australia oleh bangsa Makassar karena ada gerabah yang mengandung usur vulkanik yang tidak terdapat di Australia tetapi melimpah di Makassar.

Works cited and References

“Asian and European Newcomers”. Prehistory of Australia. (p.407-424). An additional handout of Pacific Archaeology lecture.

Advertisements
Categories: Not Just a Writing | Tags: , | Leave a comment

Review: Tim Flanery’s The Future Eaters

Review: Tim Flanery’s The Future Eaters

N. A. Angayomi
English Dept. UGM
Final Exam Kelas Arkeologi Pasifik
Chapter 01

Secara garis besar, ada dua opini utama tentang penyebab kepunahan hewan di muka bumi. Yang pertama yaitu karena adanya perubahan iklim, sedangkan yang kedua karena ulah manusia (overkill-perburuan yang tidak terkendali). Pendukung teori perubahan iklim percaya bahwa kepunahan adalah akibat dari perubahan iklim yang dramatis—terkait dengan zaman es yang terakhir. Namun, pendukung teori overkill berargumen bahwa manusialah penyebab kepunahan hewan di muka bumi.

Pendukung teori overkill, Prof. Paul Martin, mengemukakan hipotesis Blitzkrieg yang menyatakan bahwa kepunahan terjadi nyaris bersamaan dengan kedatangan manusia di wilayah tersebut. Alasannya adalah bahwa hewan besar dan burung yang tidak dapat terbang merupakan target perburuan yang mudah karena tidak menganggap manusia sebagai predator mereka.

Selain dua teori tersebut, ada teori ketiga yang muncul belakangan, yaitu teori yang menggabungkan keduanya. Teori penengah ini percaya bahwa bersamaan dengan saat manusia mulai memburu hewan, iklim di bumi mulai berubah sedemikian rupa sehingga hewan-hewan tidak bisa bertahan. Akan tetapi teori ini memiliki celah yang diperdebatkan karena ada yang menganggap bahwa teori ini tidak jauh beda dengan teori kepunahan yang disebabkan oleh manusia.

Terlepas dari adanya teori penengah tersebut, hipotesis bahwa iklimlah penyebab kepunahan masih merupakan topik debat yang tidak kunjung usai. Hipotesis ini tergantung pada asumsi bahwa perubahan di zaman es terjadi sangat cepat yang membuat air di muka bumi berubah menjadi es secara simultan. Hal inilah yang menyebabkan banyak area mengalami kekeringan. Selain itu, temperatur pun menurun drastis dan cenderung kering. Dengan minimnya air dan suhu yang sangat rendah, tidak banyak vegetasi yang sanggup bertahan. Kekeringan pulalah yang menyebabkan hewan besar—yang diasumsikan memerlukan asupan air yang sangat banyak—tidak bisa bertahan. Selain itu, perubahan iklim yang sangat cepat memungkinkan hewan tidak sempat beradaptasi, begitu pula tanaman.

Akan tetapi, asumsi-asumsi tersebut dinilai memiliki banyak kelemahan. Pertama, 16 dari 17 zaman es di muka bumi terjadi tanpa kepunahan massal, jadi zaman es yang ke-17 pun memiliki kemungkinan yang sama dengan 16 zaman es sebelumnya. Kedua, waktu kepunahan hewan tersebut meleset dari zaman es dan tidak terjadi secara bersamaan. Puncak zaman es terjadi sekitar 25.000-15.000 tahun yang lalu, tetapi ada kepunahan yang terjadi sejak 35.000 tahun yang lalu bahkan terjadi “baru” pada abad ke-12 sampai abad ke-16 Masehi. Ketiga, ada spesies yang secara teori seharusnya tidak terpengaruh ternyata punah, dan spesies yang seharusnya punah ternyata bertahan. Dengan adanya tiga lubang besar tersebut, Tim Flanery berusaha membuktikan bahwa hipotesis kedualah, kepunahan karena ulah manusia, yang lebih masuk akal.

Pada dasarnya, hipotesis bahwa punahnya hewan disebabkan oleh manusia mendapat sandungan yaitu asumsi bahwa perilaku hewan liar saat ini sama persis dengan perilaku hewan liar zaman dulu. Akan tetapi, asumsi ini dapat dipatahkan dengan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa perilaku hewan liar zaman dulu sangat berbeda dengan hewan liar saat ini.

Pertama, catatan Charles Darwin tentang hewan-hewan di Pulau Galapagos—yang pada saat itu belum dirambah manusia—menunjukkan adanya dua kura-kura Galapagos yang tidak takut dengan dirinya. Kedua, Cowley menyatakan bahwa merpati di Galapagos berani hinggap di lengan atau topi pengunjung. Ketiga, di Pulau Kangaroo dan Pulau King tahun 1801-1803, François Péron menyatakan bahwa saat itu wombat berani dekat dengan manusia, padahal saat ini wombat dikenal sebagai binatang pemalu yang saat didekati pun akan kabur. Contoh lain yang disebutkan François Péron adalah gajah laut yang sangat mudah didekati bahkan dibunuh. Keempat, Matthew Flinders menulis bahwa kangguru di Pulau Kangaroo sangat jinak bahkan dapat dibunuh hanya dengan menggunakan tongkat.

Mudahnya hewan liar didekati terjadi karena secara fisik manusia tidak menunjukkan ciri-ciri ataupun perilaku predator sehingga hewan-hewan tersebut tidak merasa takut atau terancam. Bahkan, proses inisiasi “manusia adalah predator” pada spesies tersebut mungkin sangat sulit terjadi, khususnya di Australia, mengingat predator di Australia rata-rata reptil yang jelas-jelas sangat berbeda dari manusia. Selain itu, tidak diketahui berapa lama waktu yang diperlukan bagi suatu spesies untuk belajar menghindari manusia. Oleh karena itu, hewan liar zaman dulu lebih mudah dekat dengan manusia sehingga lebih mudah diburu.

Selain bukti tertulis tersebut, juga ada bukti arkeologis yaitu situs “dapur” bangsa Maori yang dipenuhi sisa-sisa moa. Situs semacam ini sangat banyak ditemukan, diantaranya adalah situs Kaupokonui.

Di situs yang terdapat di gurun pasir Kaupokonui, Distrik Taranaki, ditemukan sisa-sisa paling tidak 3 spesies moa dan 55 spesies burung. Sementara di satu situs dekat Wairau Bar, diperkirakan sekitar 9.000 moa terbunuh dan sekitar 2.400 butir telur diperkirakan dikonsumsi. Angka tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan situs Waitaki Mouth di Distrik Otago. Di situs ini moa yang terbunuh diperkirakan antara 30.000-90.000 ekor.

Dari situs-situs tersebut dapat diperkirakan bahwa banyaknya daging moa yang terbuang percuma—mencapai sepertiganya—menunjukkan bahwa moa mudah diburu, karena jika sulit diburu maka pasti akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Selain itu, semakin banyak jumlah moa yang terbunuh di suatu situs menunjukkan bahwa tempat itu tadinya dihuni banyak orang, yang diperkirakan menyusut seiring dengan punahnya moa. Moa punah sekitar 300-400 tahun sejak kedatangan bangsa Maori. Katakanlah bangsa Maori yang pertama datang hanya beberapa ratus orang. Dengan pertumbuhan konstan 1% per tahun misalnya, maka dalam waktu 400 tahun akan berkembang menjadi puluhan ribu, dan hal ini sebanding dengan tahun punahnya moa.

Fakta-fakta tersebut semuanya mengacu pada kepunahan hewan besar (megafauna). Tetapi, selain kepunahan megafauna, kepunahan mamalia berukuran sedang di Australia yang terjadi sekitar 30-40 tahun belakangan ini juga menarik perhatian. Ada asumsi bahwa hewan tersebut punah karena keberadaan predator alami (rubah, kucing) atau kalah bersaing dengan herbivora lain (kelinci), yang dua-duanya dibawa oleh bangsa Eropa. Akan tetapi, spesies yang punah hanya yang berbobot antara 50 gram sampai 5 kilogram dan berhabitat di daerah kering, itu pun setengahnya adalah spesies pengerat yang dikenal mudah beradaptasi. Selain itu, kepunahan tidak berpengaruh terhadap hewan yang berukuran sama di daerah hutan atau basah, mamalia yang lebih besar atau kecil di daerah kering, serta burung, reptil, dan katak.

Baru-baru ini, berdasar riset Dr. Ken Johnson dan Dave Gibson, diketahui bahwa kepunahan tersebut terjadi sekitar tahun 1960an, mengikuti kepergian suku Aborigin dari daerah tersebut. Mereka menyebutkan bahwa pertanian dengan sistem patch burning (pembakaran sebagian) yang dilakukan oleh bangsa Aboriginlah yang menjaga keberadaan spesies mamalia berukuran sedang tersebut.

Sistem patch burning hanya membakar sebagian kecil dari suatu wilayah. Hal ini memberi keuntungan bagi mamalia ukuran sedang. Area yang tidak dibakar bisa menjadi tempat berlindung, dan tempat yang dibakar kaya akan makanan. Diperkirakan sistem ini muncul untuk mencegah kebakaran alami yang biasanya bersifat luas dan periodik. Ada asumsi bahwa mungkin dulu pernah terjadi kebakaran liar yang memunahkan spesies yang ada dan berpengaruh pada suku Aborigin yang bergantung pada spesies tersebut.
Saat suku tersebut pergi, kebakaran alami bisa terjadi dengan mudah, terutama di daerah kering karena tidak ada penghalang api yang menjalar. Tetapi, masalah justru terjadi pasca-kebakaran. Mamalia mencari makan di daerah bekas terbakar yang terbuka, dan hal ini menarik perhatian predator. Dengan adanya area yang tidak terbakar, predator mudah untuk bersembunyi.

Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Flanery mendukung pendapat bahwa kepunahan terjadi akibat ulah manusia. Data yang disajikan pun dapat mengungkapkan alasan kepunahan yang tidak terjadi secara bersamaan, yaitu karena kedatangan manusia tidak terjadi secara serentak. Namun, di sisi lain, ada juga upaya Aborigin untuk melindungi spesies tertentu walau itu demi keuntungan mereka, dan justru dengan kepergian merekalah kepunahan terjadi.

References

Flanery, Tim. The Future Eaters (p.180-198, p.237-241).

Categories: Not Just a Writing | Tags: | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.